Notification

×

Iklan


 

Iklan



Indeks Berita

Tag Terpopuler

Suhartini Sukses Angkat Nilai Pinang, Perempuan Desa Sukakarya Kini Berdaya dan Mandiri

Senin, 03 Agustus 2026 | Agustus 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-03T16:52:31Z

 


Musi Rawas, Indosurya – Berawal dari keinginan memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat, khususnya kaum perempuan di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Suhartini berhasil mengubah komoditas pinang menjadi sumber penghasilan yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.


Desa Sukakarya yang berjarak sekitar 21 kilometer dari pusat Kabupaten Musi Rawas memiliki jumlah penduduk usia produktif mencapai 1.842 jiwa. Namun, hampir separuh di antaranya belum memiliki pekerjaan tetap. Kondisi tersebut juga dirasakan oleh banyak perempuan yang menghadapi keterbatasan pendidikan, menikah di usia muda, hingga memilih menjadi pekerja migran.


Melihat situasi tersebut, Suhartini terdorong menciptakan perubahan. Setelah mengikuti pelatihan pertanian dan kewirausahaan di Kabupaten Lahat pada 2018, ia kembali ke kampung halamannya dengan membawa pengetahuan baru untuk membangun potensi desa.


Langkah awal yang dilakukan adalah membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati bersama 15 perempuan desa. Mereka memulai usaha dengan membudidayakan jahe menggunakan polybag sebagai solusi menghadapi banjir yang kerap merendam lahan pertanian.


Bermodalkan iuran Rp10 ribu dari masing-masing anggota, sekitar 3.000 bibit jahe berhasil ditanam dan kemudian diolah menjadi minuman bandrek. Seiring berjalannya waktu, Suhartini melihat potensi yang lebih besar dari tanaman pinang yang selama ini kurang dimanfaatkan masyarakat.


Saat itu, sebagian besar petani hanya menjual buah pinang kepada tengkulak dengan harga sekitar Rp4.000 per kilogram. Padahal, nilai jual pinang di pasar internasional jauh lebih tinggi. Bahkan, tidak sedikit warga yang memilih menebang pohon pinang untuk dijadikan batang panjat saat perayaan Hari Kemerdekaan.


Perubahan mulai terasa pada 2021 ketika PT Pertamina EP Pendopo Field melalui program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG) memberikan pendampingan kepada KWT Melati. Program yang dijalankan sebagai bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 tersebut memberikan pelatihan budidaya, pengolahan, hingga pengembangan produk berbahan dasar pinang.


Berkat pendampingan tersebut, KWT Melati kini mampu menghasilkan sekitar 900 kilogram pinang kering dan 200 hingga 300 kilogram pinang muda setiap bulan dari lahan seluas 15 hektare. Hasil panen kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti kopi pinang, bandrek pinang, permen pinang, serta pemanfaatan daun pinang sebagai bahan pewarna alami untuk eco-print.


Usaha tersebut berkembang pesat, terutama saat pandemi Covid-19 ketika permintaan minuman herbal meningkat. Produk olahan jahe dan pinang buatan KWT Melati pun dipasarkan ke berbagai daerah.


Saat ini, kelompok tersebut mampu memperoleh laba bersih sekitar Rp8 juta setiap bulan. Anggota yang terlibat dalam produksi menerima upah Rp12.500 per kilogram hasil olahan. Selain itu, tersedia dana kas kelompok yang dapat dimanfaatkan anggota untuk kebutuhan pendidikan anak maupun keperluan keluarga.


Keberhasilan ini juga mendorong bertambahnya jumlah anggota KWT Melati dari semula 12 orang menjadi sekitar 30 orang.


"Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai sosok yang mampu berkarya, bukan lagi sebagai pihak yang hanya menerima bantuan. Kami ikut menggerakkan ekonomi keluarga melalui pengolahan pinang dan tanaman herbal," ujar Suhartini.


Atas dedikasinya, KWT Melati rutin mengikuti berbagai pameran UMKM di tingkat kabupaten, provinsi, nasional hingga internasional. Suhartini juga menerima penghargaan Local Heroes Inspiration Award 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai salah satu dari 20 pahlawan lokal Indonesia.


Tak berhenti sampai di situ, Suhartini terus membagikan ilmu kepada perempuan di berbagai daerah agar semakin banyak perempuan yang mampu mandiri secara ekonomi.


"Saya ingin semakin banyak perempuan percaya bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama untuk membawa perubahan bagi keluarga maupun lingkungan," tuturnya.


Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan kisah Suhartini menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan masyarakat.


Menurutnya, PEP Pendopo Field bersama PHR akan terus menghadirkan berbagai program pemberdayaan melalui program CID seperti GEMILANG agar semakin banyak lahir perempuan inspiratif yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi di daerahnya.

×
Berita Terbaru Update