Notification

×

Iklan


 

Iklan



Indeks Berita

Tag Terpopuler

PEP Pendopo Dorong Pertanian Organik, Pendapatan Petani Talang Ubi Utara Naik Hingga Tiga Kali Lipat

Rabu, 10 Juni 2026 | Juni 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-10T04:07:32Z


PALI – Di tengah hamparan sawah Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, perjuangan seorang petani perempuan bernama Sutarni menjadi bukti bahwa pertanian organik mampu mengubah kehidupan masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.


Perjalanan tersebut tidaklah mudah. Sekitar satu dekade lalu, Sutarni harus menghadapi kondisi ekonomi yang sulit akibat gagal panen yang berulang. Lahan pertanian yang dikelola bersama keluarganya mengalami kerusakan akibat serangan jamur yang dipicu penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Tidak lama berselang, serangan ulat grayak kembali membuat hasil panen merosot drastis.


Kondisi tersebut memaksanya berutang untuk membeli pupuk. Bahkan, tagihan listrik rumah tangga serta biaya pendidikan anak sempat tertunggak hingga berbulan-bulan.


Menurut Sutarni, menjadi petani saat itu bukan perkara mudah. Meski tidak diserang hama, keuntungan yang diperoleh masih sangat tipis. Produksi padi rata-rata hanya mencapai 2,5 hingga 3 ton per hektare dengan harga jual sekitar Rp10 ribu per kilogram, sementara biaya produksi terus meningkat akibat tingginya harga pupuk dan kebutuhan pertanian lainnya.


Keadaan mulai berubah pada tahun 2021 ketika Pertamina EP (PEP) Pendopo Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 meluncurkan Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA).


Melalui program tersebut, Sutarni bersama anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela dan Kelompok Tani Rejomulyo mendapatkan pelatihan serta pendampingan mengenai pertanian organik.


Para petani diajarkan cara memulihkan kesuburan tanah menggunakan pupuk berbahan jerami dan kotoran hewan. Mereka juga mendapatkan pengetahuan mengenai teknik penanaman yang lebih efektif hingga metode pengendalian hama secara alami menggunakan asap batok kelapa dan campuran susu, telur, serta madu.


Selain memberikan pelatihan, PEP Pendopo Field juga menyediakan sekretariat kelompok, bantuan peralatan pertanian, serta berbagai fasilitas pendukung untuk menunjang pengembangan pertanian organik di wilayah tersebut.


Hasilnya mulai terlihat pada lahan pertanian seluas 15 hektare yang dikelola para petani binaan. Jika sebelumnya dibutuhkan sekitar 100 kilogram bibit per hektare, kini kebutuhan bibit hanya sekitar 5 kilogram per hektare.


Ketergantungan terhadap pupuk kimia berhasil ditekan sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah. Produktivitas lahan pun meningkat signifikan. Hasil panen yang sebelumnya berkisar 2,5 ton per hektare melonjak menjadi sekitar 4,5 ton per hektare dengan masa tanam 3 hingga 4 bulan.


Tidak hanya kuantitas, kualitas beras yang dihasilkan juga mengalami peningkatan sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi, mencapai Rp20 ribu per kilogram.


Peningkatan produksi dan efisiensi biaya tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Pendapatan yang sebelumnya sekitar Rp2,5 juta per bulan kini meningkat menjadi rata-rata Rp8 juta per bulan.


“Dulu hasil panen tidak menentu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sering tidak cukup. Sekarang produksi beras meningkat berkat pertanian organik dan kami para petani bisa hidup lebih layak,” ujar Sutarni.


Keberhasilan tersebut tidak berhenti pada sektor pertanian. Pada tahun 2024, Sutarni mendirikan Kelompok Wanita Tani Rosela sebagai wadah pemberdayaan perempuan di desanya.


Saat ini, kelompok yang beranggotakan 20 perempuan tersebut mengelola lahan seluas setengah hektare di kawasan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Pendopo Field.


Berbagai tanaman herbal seperti rosela, jahe, kunyit, kencur, bawang dayak, pegagan, kumis kucing, sambiloto hingga aneka sayuran dibudidayakan dan diolah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti teh rosela, bandrek, peyek, dan stik ubi.


Dari berbagai produk tersebut, KWT Rosela mampu menghasilkan pendapatan kelompok sekitar Rp2 juta per bulan.


Selain kegiatan ekonomi, kelompok tersebut juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat dan pelajar mengenai manfaat tanaman obat keluarga melalui kegiatan kunjungan dan pembelajaran langsung di lahan pertanian mereka.


Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa keberhasilan Sutarni menjadi salah satu bukti bahwa program pemberdayaan masyarakat yang tepat dapat menciptakan dampak berkelanjutan.


“PHR Zona 4 ingin memastikan masyarakat di sekitar wilayah operasi dapat tumbuh bersama seiring kehadiran perusahaan. Ibu Sutarni menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang tepat mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.


Keberhasilan yang diraih Sutarni bersama para petani di Talang Ubi Utara menjadi gambaran nyata bagaimana kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan dapat menciptakan perubahan positif, tidak hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi pemberdayaan perempuan dan ketahanan pangan daerah.

×
Berita Terbaru Update