Notification

×

Iklan


 

Iklan



Indeks Berita

Tag Terpopuler

Meninggalnya Dua Bersaudara Diduga DBD, Pelayanan RSUD Talang Ubi Mendapat Sorotan

Rabu, 26 Agustus 2026 | Agustus 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-26T15:13:10Z

 


PALI, Indosurya — Meninggalnya dua kakak beradik, Andika bin Antap Mustopa dan Hulya Elis binti Atap Mustopa, yang disebut meninggal akibat Demam Berdarah Demam Berdarah (DBD), Selasa (26/8/2026), menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).


Peristiwa tersebut juga mendapat sorotan dari Habibi, Ketua RT 04 yang juga berprofesi sebagai jurnalis di wilayah PALI. Ia menilai proses pelayanan dan rujukan pasien di RSUD Talang Ubi perlu menjadi bahan evaluasi, terutama bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.


Menurut Habibi, berdasarkan keterangan keluarga, pasien telah menjalani perawatan selama sekitar dua hari di RSUD Talang Ubi. Namun, keluarga disebut belum melihat perkembangan kondisi yang diharapkan hingga akhirnya meminta agar pasien dirujuk ke rumah sakit lain.


"Kami sangat menyayangkan pelayanan Rumah Sakit Talang Ubi yang kurang maksimal. Karena sudah dua hari pasien dirawat, namun menurut pengakuan orang tua almarhum tidak ada perkembangan. Keluarga menunggu, kemudian mendesak untuk meminta rujukan, baru dilakukan rujukan," kata Habibi.


Ia berharap kejadian tersebut dapat menjadi evaluasi bagi pihak rumah sakit agar pelayanan terhadap pasien, khususnya kasus DBD, dapat dilakukan secara lebih cepat dan responsif.


“Kami meminta pelayanan rumah sakit lebih cepat tanggap kepada pasien, sehingga kejadian yang menurut kami luar biasa ini tidak terjadi lagi. Apalagi yang meninggal adalah kakak adik karena DBD,” ujarnya.


Habibi juga menekankan pentingnya pemantauan secara intensif terhadap pasien yang memiliki indikasi DBD. Dikatakannya, kondisi pasien harus terus dipantau agar ketika terjadi penurunan kondisi, tindakan medis dapat segera dilakukan.


“Seharusnya dokter dan perawat lebih memahami bagaimana penanganan terhadap pasien yang terkena DBD, sehingga pasien bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat,” katanya.


Ia menambahkan, berdasarkan cerita yang disampaikan ayah kedua almarhum, terdapat perbedaan pengalaman pelayanan antara RSUD Talang Ubi dan rumah sakit di Muara Enim.


“Menurut cerita ayah kedua almarhum, pelayanan di RS Talang Ubi dirasakan kurang maksimal dibandingkan pelayanan di RS Muara Enim. Ini yang menjadi perhatian kami sebagai masyarakat,” ungkapnya.


Selain menyoroti pelayanan rumah sakit, Habibi juga berkoordinasi dengan Puskesmas Talang Ubi setelah memperoleh informasi dari pihak keluarga terkait kematian kedua anak tersebut yang disebut akibat DBD.


Koordinasi itu kemudian mendapat respon dari pihak puskesmas. Petugas mendatangi lingkungan tempat tinggal keluarga dan memberikan ABT masyarakat kepada. Sementara kegiatan penyemprotan atau fogging dijadwalkan untuk dilakukan dalam waktu dekat.


“Alhamdulillah sudah ada respon dari pihak puskesmas. Pagi tadi petugas sudah hadir dan sudah membagikan ABT. Besok akan segera diadakan penyemprotan,” ujarnya.


RSUD menjelaskan Mekanisme Rujukan


Sementara itu, Direktur RSUD Talang Ubi, dr. Ronald Aprinaldi, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membenarkan bahwa Hulya sempat menjalani perawatan di RSUD Talang Ubi sebelum akhirnya dirujuk ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Rabain Muara Enim dengan diagnosis DBD.


Dr. Ronald menjelaskan bahwa kondisi pasien membutuhkan fasilitas perawatan PICU. Namun, proses transfer pasien ke rumah sakit rujukan harus dilakukan melalui mekanisme Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE).


Menurutnya, SISRUTE merupakan sistem yang digunakan untuk menghubungkan informasi pasien antara fasilitas kesehatan secara berani. Melalui sistem tersebut, rumah sakit dapat mengetahui kesiapan tujuan rumah sakit, termasuk ketersediaan tempat tidur, fasilitas medis maupun tenaga kesehatan.


Dalam prosesnya, rumah sakit yang Merujuk terlebih dahulu memasukkan data serta kondisi pasien melalui sistem SISRUTE. Informasi tersebut kemudian diterima rumah sakit tujuan untuk dilakukan pengecekan terhadap ketersediaan kamar, tenaga medis dan fasilitas yang diperlukan pasien.


Setelah rumah sakit tujuan memberikan konfirmasi kesiapan menerima pasien, barulah pasien dapat diberangkatkan menuju rumah sakit tersebut.


Penjelasan dari pihak RSUD Talang Ubi tersebut disampaikan untuk menerangkan bahwa proses rujukan pasien, terutama pasien yang memerlukan perawatan intensif seperti PICU, memiliki tahapan dan harus mendapatkan konfirmasi dari fasilitas kesehatan tujuan.


Perbedaan pandangan mengenai pelayanan tersebut kini menjadi perhatian masyarakat. Warga berharap evaluasi terhadap pelayanan kesehatan terus dilakukan, terutama menyangkut kecepatan penanganan pasien serta proses rujukan ketika kondisi pasien membutuhkan fasilitas medis yang lebih lengkap.


Meninggalnya dua kakak beradik tersebut juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan DBD di lingkungan masyarakat, termasuk melalui pemberantasan sarang nyamuk dan langkah penanganan dini ketika ditemukan kasus yang mengarah pada DBD.

×
Berita Terbaru Update