Prabumulih – Perubahan besar dirasakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Jika sebelumnya usaha mereka sering terhambat listrik yang tidak stabil, kini energi matahari justru menjadi sumber harapan baru bagi para ibu rumah tangga di desa tersebut.
Ketua KWT Melati, Suhartini (45), mengungkapkan bahwa dahulu mereka kerap terbebani biaya operasional yang cukup besar, terutama untuk listrik dan bahan bakar genset.
“Dulu kami sering khawatir usaha ini tidak bisa bertahan. Kalau listrik padam, satu-satunya pilihan hanya genset solar,” ujarnya saat ditemui di lokasi produksi kue kering.
KWT Melati yang beranggotakan sekitar 30 orang perempuan kini mampu memproduksi berbagai jenis kue kering dengan omzet mencapai sekitar Rp8 juta per bulan. Namun perjalanan menuju capaian tersebut tidak mudah.
Pada masa awal, proses produksi sering terhenti akibat listrik yang tidak menentu. Padahal pesanan pelanggan terus berdatangan, sementara adonan sudah disiapkan dan waktu pengiriman semakin dekat. Selain itu, biaya listrik dan solar untuk genset juga cukup memberatkan, mencapai sekitar Rp2 juta setiap bulan.
Melihat kondisi tersebut, PEP Pendopo Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 memberikan dukungan melalui program pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa tersebut pada akhir 2024.
PLTS yang dibangun memiliki kapasitas 6,6 kWp dengan dukungan baterai berkapasitas 5 kWh. Selain itu, satu warga desa bernama Sardiono juga mengikuti pelatihan sertifikasi pemeliharaan PLTS agar fasilitas tersebut dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat.
Sejak kehadiran PLTS, aktivitas produksi KWT Melati menjadi lebih lancar. Mesin pengaduk dan oven kini dapat beroperasi tanpa khawatir listrik padam.
Tidak hanya mendukung usaha warga, keberadaan PLTS juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Saat terjadi pemadaman listrik di malam hari, sebagian rumah warga masih dapat menikmati penerangan sehingga anak-anak tetap bisa belajar dengan nyaman.
Menariknya, KWT Melati kini tidak hanya fokus pada usaha produksi kue, tetapi juga mulai mengajak masyarakat desa untuk lebih bijak dalam menggunakan energi serta mengenal manfaat energi terbarukan seperti tenaga surya.
Dari sisi lingkungan, penggunaan PLTS juga dinilai mampu mengurangi emisi karbon hingga sekitar 8 ton karbon dioksida setiap tahun. Jika sebelumnya aktivitas produksi menggunakan genset yang menghasilkan asap, kini energi matahari dimanfaatkan tanpa menimbulkan polusi.
Berkat berbagai perubahan positif tersebut, Desa Sukakarya akhirnya terpilih sebagai salah satu desa terinovatif di Kabupaten Musi Rawas.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya berasal dari teknologi yang digunakan, tetapi juga semangat masyarakat yang terus berupaya berkembang.
“PLTS hanyalah alat. Yang paling penting adalah semangat ibu-ibu KWT Melati yang terus berusaha mandiri secara ekonomi sekaligus peduli terhadap lingkungan,” jelasnya.
Sementara itu, Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip, turut mengapresiasi kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat desa.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil perpaduan antara teknologi tepat guna dengan semangat gotong royong masyarakat.
“Kolaborasi seperti ini menjadi contoh bahwa desa mampu berkembang jika ada kemauan bersama untuk maju,” ujarnya.

%20(1000%20x%20199%20piksel)_20250406_231039_0000.png)


