Prabumulih, 4 Maret 2026 — Lonjakan harga kebutuhan pokok masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga, terutama kaum ibu rumah tangga. Hal itu turut dirasakan Tri Ningsih, warga Kelurahan Patih Galung, Kota Prabumulih, yang setiap pekan harus menyiapkan anggaran belanja antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu demi memenuhi kebutuhan dapur.
Ingin menekan pengeluaran sempat mendorong perempuan berusia 57 tahun tersebut memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumahnya. Tanah yang sebelumnya dibiarkan terbengkalai mulai ia bersihkan dan ditanami berbagai jenis sayuran serta umbi-umbian. Namun keterbatasan pengetahuan membuat hasil tanamannya belum maksimal.
Di tengah upaya tersebut, Pertamina EP Prabumulih Field yang berada di bawah naungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 meluncurkan program pemberdayaan bertajuk MUDA BERSAMA (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah). Program ini difokuskan pada pemberdayaan kemandirian pangan sekaligus pengelolaan limbah rumah tangga.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan limbah dapur, pengenalan obat tanaman keluarga (TOGA) dan racikan herbal, hingga pembekalan strategi pemasaran produk.
Tri Ningsih yang juga menjabat Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning menjadi salah satu peserta aktif. Bersama 30 anggota lainnya, ia berinvestasi cara mengolah sisa sayuran, air cucian beras, dan bahan organik lainnya menjadi pupuk alami yang ramah lingkungan.
Berbekal ilmu baru itu, ia kembali menggarap lahan di pekarangan rumah. Kali ini hasilnya berbeda. Sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, serta tanaman obat tumbuh lebih subur berkat pemanfaatan pupuk organik.
Kini, para anggota KWT Kemuning tidak lagi terlalu khawatir dengan harga bahan pangan. Kebutuhan dapur sebagian besar dapat dipenuhi dari hasil panen sendiri, sehingga pengeluaran belanja mingguan pun lebih hemat.
Tak hanya untuk konsumsi keluarga, hasil kebun juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Minuman tradisional seperti wedang beras kencur, kunyit asam, jamu instan, hingga bibit tanaman siap tanam dipasarkan dengan harga berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per produk. Dari usaha tersebut, omzet kelompok mampu mencapai sekitar Rp1 juta setiap bulan.
“Tantangan justru menjadi motivasi bagi kami. Yang penting tetap kompak dan saling mendukung. Harapan kami, semakin banyak warga yang bisa mandiri dan menghasilkan dari rumah,” ujar Tri Ningsih.
KWT Kemuning pun berkembang menjadi referensi pembelajaran bagi kelompok lain. Saat ini, mereka aktif berbagi pengalaman dan menjadi pusat studi bagi 13 Kelompok Wanita Tani lainnya di Prabumulih.

%20(1000%20x%20199%20piksel)_20250406_231039_0000.png)


